ISTANA TERAKHIR
Cerpen Lekat S. Amrin
LELAKI itu berdiri beberapa saat sambil menatap bangunan perkasa di hadapannya. Dia menghela nafas, menyembunyikan rahasia hidupnya yang panjang. Bagai seorang mafia, betapa dia pandai menjaga semuanya, sehingga perjalanan bersama keluarganya seakan penuh kedamaian. Penggalan-penggalan kisah hidup hanya dia yang tahu, bersama Tuhan yang menyaksikan.
Berpetualang dalam perantauan tidak dimengertinya kapan berakhir. Atau, adakah tambatan terakhir yang membuat tidak ada lagi kegelisahan untuknya.
Lelaki itu bernama Albu Hamidy. Dan wanita bersamanya pada hari itu adalah Maya Hasibuan, seorang perempuan Batak kelahiran Pangururan Samosir, tepian Danau Toba.
Keduanya baru saja keluar dan meninggalkan istana Maimun. Sebuah bangunan megah monumen kejayaan kerajaan Melayu di kota Medan. Albu Hamidy masih memandangi keperkasaan bangunan itu sebelum dia mendengar suara Maya.
“Istana adalah monumen kekuasaan. Tetapi juga bisa menjadi monumen persengketaan,” kata Maya Hasibuan sambil menggandeng lengan pasangannya, Albu Hamidy.
Albu Hamidy pun mengangguk setuju. “Sekarang istana ini meninggalkan sejarah itu. Sejarah kekuasaan Kesultanan Deli, termasuk persengketaan panjang yang ditinggalkan. Sengketa tanah Sultan di tanah Deli bagian dari rekam jejak sejarahnya hingga saat ini,” ujar Albu ikut menyahuti ucapan wanita cantik di sampingnya.
Lalu keduanya meninggalkan bangunan megah berwarna keemasan itu. Di saat kota Medan sudah sore, bangunan monumental itu tampak begitu indah. Sebagai simbol kejayaan Kesultanan Melayu Deli, kemegahan bangunannya sangat terkenal sepanjang masa di Sumatera Utara. Bagi wisatawan dari mana pun menjadi tak lengkap bila tidak mengunjungi bangunan bersejarah ini. Identitas islam Melayu tersematkan pada setiap ornamen bangunannya.
Albu Hamidy dan Maya Hasibuan hari itu telah selesai melakukan tugas jurnalistik untuk sebuah artikel tentang sejarah panjang Kesultanan Deli. Sebagai insan pers keduanya dituntut lebih produktif membuat karya bermutu pada setiap tulisan ilmiahnya.
Sore itu Albu seperti biasa meminta Maya Hasibuan untuk lebih dulu pulang ke apartemen di kawasan Kampung Madras. Dan kepergiannya ke mana pun, Albu merasa tidak perlu diketahui semua oleh Maya Hasibuan. Baginya ada hal lain yang bersifat rahasia dalam hidupnya.
Hari Sabtu ini adalah akhir minggu merupakan waktunya berjumpa dengan seniman muda di Sanggar Seni Deli Serdang. Komunitas seni tari telah sekian tahun berdiri di sebuah Kabupaten Deli Serdang. Dari kawasan Kampung Madras Albu selalu memesan grab untuk menuju ke sana, dan kurang dari satu jam dia pun sampai ke gedung Taman Budaya Melayu Deli.
Seorang wanita cantik menghampirinya. “Baru saja saya selesai mengajar tari,” katanya menghampiri Albu Hamidy yang baru saja sampai di halaman gedung itu. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum.
Siswa-siswi tari masih ramai di seputaran gedung, tapi Albu tidak terlalu peduli, dia langsung menyambut wanita di hadapannya dengan sangat akrab. “Ma, ini malam Minggu, yuk kita ajak si kecil jalan-jalan,” kata Albu sambil meraih tangan wanita itu menuju parkiran motor.
Wanita itu tersenyum senang. “Papa sangat mengerti kalo sudah seminggu tidak pulang,” sahutnya tertawa kecil.
Albu pun tertawa sambil meminta konci kontak motor pada wanita itu, dan bersamaan keduanya melangkah. “Mama bonceng saja, papa bawa motornya, kita menjemput si kecil di rumah,” kata Albu.
Wanita cantik itu tersenyum pertanda setuju. Keduanya pun berjalan santai menyelusuri jalan kota yang gemerlap lampu jalan di tengah keramaian kendaraan berlalu lalang. Malam itu terasa indah bagai suguhan sempurna bagi kaula muda merajut cinta di malam Minggu yang cerah.
Suasana itu seperti persis malam minggu lima tahun yang lalu. Albu Hamidy masih mengingatnya dengan sempurna. Masih segar betul di kepalanya, ketika dia berkesempatan berkenalan dengan seorang gadis muda yang cantik jelita.
Malam itu Pemerintah Deli Serdang mengadakan upacara siremonial pembukaan Kompetisi Pentas Tari Tradisional Melayu se provinsi Sumatera Utara. Pesertanya antar sekolah menengah atas dari utusan kabupaten kota se Sumatera Utara. Acara yang cukup besar itu tentu mendapatkan liputan luas dari berbagai media.
Albu Hamidy sebagai wartawan sejarah dan seni diutus oleh perusahaan medianya untuk meliput acara itu. Di gedung olah raga tersebut acara digelar, sementara di halamannya ada pameran cindera mata produk kerajinan tradisional daerah masing-masing. Sungguh ramai dan meriah acara itu.
Pada season pentas tari, Albu Hamidy mencoba mendekati seorang gadis cantik yang memberi kode instruksi kepada semua penari. Dia berdiri tegak di belakangnya, menunggu jeda pementasan. Dia perhatikan betapa profesionalnya gadis itu memberi instruksi untuk sebuah gerakan pada semua personil di tarian kolosal itu. Albu Hamidy sangat mengaguminya.
“Sorry dek, apakah adek pelatih tari yang baru dipentaskan tadi?” tanya Albu menegur gadis itu dengan ramah ketika tarian baru saja selesai.
“Iya Bang. Itu tari kerasi yang saya ciptakan,” kata gadis cantik itu.
“Ow, luar biasa, saya kagum,” sahut Albu. Gadis itu tersenyum mendapatkan pujian.
“Kenalkan, saya Albu Hamidy jurnalis yang ditugaskan meliput acara ini,” Albu mengulurkan tangan.
Gadis itu pun menjabat tangan Albu dengan ramah. “Saya Andam Dewi Permata,” sahutnya tersenyum.
“Terima kasih telah sudi berkenalan, …saya panggil Dewi saja ya?” Albu tertawa kecil.
“Ya, saya memang dipanggil Dewi,” kata gadis itu ikut juga tertawa kecil.
Di malam itulah Albu memulai komunikasi, dengan interview terkait kreatifitas Andam Dewi Permata sebagai seorang guru tari di Deli Serdang. Perjumpaan pertama yang memberikan kesan keakraban berkesinambungan.
Gadis itu bercerita bahwa dia seorang blasteran Jawa-Sumatera. Ayahnya merantau dari Jogja, dan ibunya seorang Melayu Deli. Dia baru setahun tamat dari Institut Kesenian Jogja, dan sekarang mengajar di salah satu SMU di kabupaten Deli Serdang.
Interview bermula memperkenalkan Dewi ke dunia maya sejak dibikin artikel panjang tentang keahliannya menciptakan tari kreasi Melayu Deli. Kebetulan membuat kreasinya di festival itu menjadi juara. Publikasi yang luas di berbagai media dengan tulisan Albu Hamidy membuat Andam Dewi Permata begitu terkesan.
Komunikasi pun berlanjut yang membuat keduanya makin akrab. Dewi makin mengagumi Albu, karena tulisan-tulisan lelaki ini sangat berbobot dengan bahasa yang apik. Dia tahu lelaki itu sudah berusia, tetapi ketampanannya semakin terlihat seiring dia mengagumi kecerdasan pemikiran melalui artikel-artikel karyanya. Memadu kasih adalah penerimaan Andam Dewi Permata, ketika lelaki yang dikaguminya sudah kesekian kali menyatakan cinta padanya.
Enam bulan kemudian Albu Hamidy dan Andam Dewi pun menikah di sebuah masjid di kota Deli Serdang. Sebagai seorang lelaki perantau, keluarga Dewi terpaksa maklum ketika pernikahan itu hanya dihadiri oleh rekan-rekan kerja Albu Hamidy dari perusahaannya…
“Pa, kita sudah sampai…,” teriak Dewi menyadarkan Albu yang membawa motor. Mendadak lelaki itu menekan rem menghentikan kendaraannya. “Ya, ya, ma, aku tau,” kata Albu pula.
Wanita itu turun. “Mama jemput si kecil dulu, dia bersama ibu di rumah,” kata Dewi dengan terburu menuju rumah.
Albu mengangguk sambil menunggu istrinya menjemput si kecil yang baru berusia tiga tahun itu.
Malam minggu itu, Albu memanjakan istrinya dan anak lelaki kecilnya. Di ajaknya ke taman bermain anak, kemudian makan di restoran terbaik di kota itu. Mereka menikmati malam liburan dengan penuh sukacita. Berakhir malam minggu yang panjang membuat putranya sudah tertidur lelap dalam gendongan ketika tiba di rumahnya. Dewi menidurkan buah kasih sayangnya, kemudian dia memeluk suaminya dengan mesra. Sungguh malam itu keduanya menikmati percintaan setelah berapa lama tidak bersama.
***
Saat tertidur lelap, Albu Hamidy tidak menyadari kalau bagian perjalanan hidupnya terbawa dalam mimpi. Penggalan kisah bagai rentetan drama kehidupan yang diputar ulang. Ketika itu, betapa keindahan danau Toba sangat memukaunya. Luar biasa berkesan sebagai orang pertama kali mengunjunginya. Bahkan episode kisah hidupnya sangat terkait dan tidak mungkin terlupakan dari kawasan ini.
Hari itu, Festival Perahu Tingkat Nasional digelar di danau vulkanis Toba, dan telah mempertemukan dia pada Maya Hasibuan. Gadis Batak kelahiran kota Pangururan Samosir terlanjur menyeretnya pada petualangan sekian tahun lalu. Rekan sesama wartawan memperkenalkannya pada wanita jelita penganut kristiani itu.
Dalam kesendirian ketika menekuni profesi independen membuat dia begitu cepat beradaptasi dengan siapa pun. Suasana itu menjadi lebih mudah berkomunikasi dengan Maya Hasibuan, seorang gadis jebolan Ilmu Jurnalistik Universitas Sumatera Utara, yang kini sedang magang di Televisi swasta. Wajah yang cantik dengan tinggi semampai Maya dilatih sebagai presenter potensial. Seiring waktu menjalani profesi yang sama, keduanya pun menjadi akrab. Mereka berusaha mengatur waktu untuk selalu bertemu dan berjalan berdua, lalu sekian bulan setelah festival perahu, keduanya pun pacaran.
Kemestri keduanya membuat mereka ingin menikah. Begitulah kata pujangga, cinta bahkan telah membuat buta, dan itu terjadi pada gadis bernama Maya. Kedua orang tua Maya yang bermarga Hasibuan menentang putrinya hendak menikah dengan seorang muslim. Lebih celaka Albu Hamidy pun tidak mau pindah agama, sebagai solusi bagi keluarga Hasibuan. Percintaan ini pun berakhir tragis, saat Maya Hasibuan diusir dari keluarga di Pangururan, karena ternyata dia siap menjadi mualaf supaya bisa menikah pada lelaki muslim yang dicintainya.
Sebagai lelaki yang bertanggungjawab, Albu pun membawa Maya Hasibuan ke seorang uztad untuk memandunya mengucap kalimah sahadat sebagai syarat masuk islam. Setelah prosesi itu semua selesai, keduanya pun menikah di Kantor Agama Kota Medan.
Ketika berstatus suami istri, keduanya menyewa apartemen kawasan Kampung Madras, yang dikenal pemukiman keturunan India di kota Medan. Albu Hamidy dan Maya Hasibuan pasangan yang memulai menjalankan bahtera rumah tangga, dengan keserasian karena menekuni profesi yang sama sebagai insan jurnalis.
Tetapi perjalanan hidup ternyata selalu ada yang diluar kemampuan manusia. Sudah hampir lima tahun menikah Albu dan Maya belum juga bisa hamil, apa lagi melahirkan. Inilah yang membuat keduanya sering merana. Apa lagi istrinya sungguh ingin sekali memiliki momongan. Dia sudah diusir dari keluarga maka sudah semestinya dia punya keturunan untuk penerusnya. Maya Hasibuan bahkan pernah membisikkan di telinga suaminya, untuk mengajaknya melakukan adopsi anak. Ketika itu Albu menatap wajah istrinya, kemudian memeluknya dengan hangat dan kasih sayang. Sebagai suami, dia ingin selalu menghibur istrinya.
Terkadang begitulah perjalanan hidup yang sering membawanya pada lamunan panjang. Terkadang juga Albu sangat kasian dengan istrinya yang berhari-hari menunggu kehamilan yang tak kunjung datang. Hal itu pun pada suatu ketika, membuat hatinya berkata-kata bahwa haruskah dia kawin lagi secara diam-diam, dan anaknya kelak akan dibawanya pada Maya sebagai anak yang diadopsi mereka. Anak sebagai persembahan untuk istrinya yang selalu merana, menunggu buah hatinya yang selama ini tak pernah ada tanda-tanda akan datang.
Terkadang akhirnya, hidup harus ada pilihan. Harus ada keputusan walau pun itu mungkin tidak masuk akal, bahkan cara gila. Maka peristiwa pernikahan Albu pada Andam Dewi Permata sesungguhnya, sebagai sebuah cara kenekatannya untuk mendapatkan anak yang kelak akan dipersembahkan pada Maya Hasibuan. Skenario terbaik mungkin tidak tercapai maka skenario terburuk pun barangkali bisa berhasil baik…
“Pa, bangun, hari sudah terang...,” Dewi membangunkan suaminya, di pagi minggu itu.
Albu terbangun. Mimpinya tentang kisah nyata pun buyar. Albu mengeliatkan tubuhnya, menggerakkan sendi-sendinya, kemudian dia bangun. Dilihat, istrinya telah selesai mandi dan berdandan rapi. Putra kecilnya juga sudah mandi, dan sedang dipakaikan baju oleh ibunya. Aroma wangi memenuhi kamar mereka.
Albu mendekat dan mencium putra kecilnya dengan gemas.
“Pa, aku mau beri kabar gembira untuk papa,” kata Dewi memandang wajah suaminya.
“Kabar apa, ma?” tanya Albu.
“Mama sudah hamil lagi…”
“Oh ya?” sahut Albu sedikit terkejut, tapi segera memeluk istri dan putra kecilnya. Dewi tersenyum riang. “Sudah terlambat dua bulan, pa,” kata Dewi lagi.
Albu terdiam sesaat, tapi dia menatap wajah Dewi dengan bahagia.
Ketika itulah spontan Albu Hamidy dalam diam kembali mengulas skenario dalam mimpinya. Dia akan segera melaksanakan rencana untuk membawa putra kecilnya sebagai anak adopsi untuk dia persembahkan pada istrinya Maya Hasibuan. Besok, rencana itu harus berjalan mulus, kata Albu dalam hati.
Dan benar, besoknya Albu telah bicara pada istrinya Andam Dewi, bahwa dia akan membawa putra kecilnya jalan-jalan. Akan membelikannya mainan bagus dan mahal, dan andai pun terlambat pulang tak usah khawatir tentang perjalanannya.
“Papa ingin anak kita akrab sama papanya, ma. Jangan dipersoalkan bila papa membawanya jalan-jalan dan terlambat pulang,” kata Albu sambil menyentuh pipi istrinya dengan halus.
“Ya pap, gak apa-apa, biar kerinduan si kecil segera terobati. Bukankah selama ini papa selalu meninggalkan kami berhari-hari dan berminggu-minggu,” kata Andam Dewi tanpa curiga.
Albu tersenyum. Lalu dia mencium istrinya dengan mesra.
Besoknya, Albu betul-betul telah memesan mobil grab. Putra kecil pun dibawanya menaiki mobil sewa sambil melambaikan tangan pada mamanya. Mobil segera memasuki jalan tol untuk melaju ke Kota Medan. Dalam perjalanan, Albu menelpon Maya Hasibuan bahwa dia telah mendapatkan anak yang dapat diadopsi. Dan kini bocah lelaki itu sudah bersamanya. Maya seperti tidak percaya, tapi suaranya terdengar surprise sekali.
Maya segera minta suaminya untuk video call. Kedengaran sekali suaranya sangat gembira. Albu tertawa kecil sambil menyentuh layar hand phone untuk membuka video call yang diminta istrinya.
“Wow, wajahnya mirip wajah papi ya,” teriak Maya sambil memandang wajah bocah yang berada di pangkuan Albu.
Albu hanya tersenyum sambil memeluk putranya. Albu ingin tertawa mendengar suara Maya, karena istrinya itu tidak tahu kalau bocah itu adalah anaknya dengan istri yang lain. Mereka tak pernah saling tahu apa yang terjadi dalam kehidupan Albu yang sebenarnya.
“Pa, kita namakan saja dia Alma Hasibuan. Albu-Maya disingkat Alma, iya kan, cakep kan?” kata Maya lagi dengan suara gembira sekali.
“Iya, iya, bagus nama itu. Oke ya, ma, papa setuju. Mama tunggu saja di apartemen,” sahut Albu sambil menutup video call.
***
Betul memang, bila Tuhan berkehendak maka semuanya tidak ada yang sulit. Bocah kecil yang kini telah diberi nama Alma Hasibuan saat berjumpa pertama kali dengan Maya Hasibuan langsung bisa menjadi akrab. Itu ajaib, Alma tak pernah memperlihatkan penolakan sedikit pun saat disambut dan dipeluk Maya Hasibuan. Albu sangat terharu melihat peristiwa itu. Dan Maya berbinar-binar bahagia mendapatkan seorang anak yang sudah sekian tahun ditunggunya. Dia berjanji, bocah lelaki itu akan diasuh dan dipelihara dengan baik. Disekolahkan, dan kelak menjadi anak kebanggaannya.
Tetapi di tempat lain, Andam Dewi Permata telah komplain kepada suaminya. Kenapa Albu menjelaskan ketidakpulangannya, karena bocah itu telah dibawa ke Bengkulu, dengan alasan ingin dipertemukan pada kakek dan neneknya. Dewi bukan main marah dengan apa yang dilakukan Albu, suaminya itu. Wanita itu berteriak-teriak. Albu mencoba menenangkan istrinya di Deli Serdang. Melalui telpon dia menjauh dari Maya, supaya tidak diketahui apa yang sedang terjadi. Albu dapat memaklumi semua kemarahan Dewi, karena dia telah membohongi istri yang telah melahirkan anaknya.
“Ma, tenang saja, anak kita aman. Papa kemaren itu langsung ke Bengkulu, lewat pesawat di Kuala Namu. Karena ayah sakit, jadi sekalian anak kita papa bawa untuk bertemu kakek dan neneknya,” kata Albu meyakinkan istrinya, Andam Dewi. Apa yang dibicarakannya seolah itu yang terjadi, padahal adalah skenario kebohongannya.
Andam Dewi sangat murka. Wanita itu berteriak. “Tidak kayak gitu caranya. Busyet, semua cerita kau!” Terdengar hand phone nya dibanting, dan langsung suaranya menghilang. Albu yakin, telepon selular itu telah hancur.
Albu terdiam sesaat. Dia sadar tindakannya mungkin telah keliru, atau barangkali kejam. Tetapi dia ingin memberikan yang terbaik kepada semua orang yang terdekat padanya. Terutama Maya Hasibuan, istrinya yang selama ini selalu merana karena ingin mempunyai seorang anak.
Beberapa hari kemudian, Albu betul-betul mau berangkat ke Bengkulu. Dia pamit pada Maya Hasibuan, dan meminta anak mereka Alma Hasibuan supaya dijaga baik-baik. Albu ada keperluan penting urusan keluarga di Bengkulu yang harus diselesaikan.
“Maya, anak kita jangan dibawa keluar apartemen ya. Kalau ada keperluan belanja, di mini market lantai bawah saja. Papa akan beberapa hari di Bengkulu,” kata Albu pada istrinya, Maya Hasibuan.
“Ya, pap. Mama akan menunggu papa pulang, baru kita kelak sama-sama keluar apartemen bersama Alma,” kata Maya Hasibuan. Wanita itu polos dengan suara kebahagiaannya.
Albu mengangguk, lalu mencium pipi istrinya. Kemudian memeluk putra kecilnya dengan mesra.
***
Albu Hamidy terbang melalui bandara Kuala Namu menuju bandara Soekarno-Hatta. Baru kemudian terbang menuju ke Bandara Fatmawati Bengkulu. Penerbangan langsung dari Medan ke Bengkulu belum ada jalur. Dan ini bagian dari perjalanan udara yang belum terkoneksitas langsung antar provinsi.
Satu jam setengah perjalanan dari Kuala Namu menuju Soekarno-Hatta, kemudian pindah pesawat unutk menuju ke Bengkulu. Lama penerbangan di udara satu jam kurang, barulah tiba di bandara Fatmawati Soekarno. Kota Bengkulu di sepanjang pinggiran Pantai Panjang, adalah sebuah kota terindah di pinggiran samudera.
Albu langsung keluar bandara, dan memesan taksi. Dia ingin segera sampai di kediaman yang sudah sepuluh tahun ditinggalkannya. Sekali pun sudah banyak perubahan di kota ini, tapi Albu masih mengenali semua jalur jalan kota. Hanya kepadatan kendaraan yang sudah sangat terasa, dan kemacetan sudah terjadi di mana-mana.
Ketika taksi tiba di depan sebuah rumah di atas bukit kecil menghadap Pantai Panjang, Albu menyuruh sopir berhenti. Setelah benar-benar kakinya menginjak jalan di depan rumah itu, dia menyaksikan bangunan di hadapan masih seperti dulu. Rumah besar dua lantai, dengan halaman yang luas. Pagar besi yang tinggi dan gerbang besar memperlihatkan kekokohan konstruksi bangunan tua.
Rumah itu warisan orang tuanya. Sejak kecil dia tinggal di rumah itu. Dan kini dia melihat ada seorang gadis remaja kecil membersihkan teras depan. Albu mencoba memukulkan gembok ke besi pagar untuk memberitahu gadis remaja itu, bahwa dia mau masuk.
Gadis itu menoleh ke gerbang. “Siapa?” tanyanya.
“Saya, mau masuk,” kata Albu menyahut.
“Ya tunggu, saya panggil ibu dulu,” ujar gadis kecil itu.
Albu menunggu beberapa saat. Tak berapa lama gadis remaja itu pun keluar bersama wanita muda. Usianya belum lima puluh, dan dia masih kelihatan cantik. Tetapi wanita itu seperti terkejut. Dia berdiri agak lama, terdiam menatap lelaki yang berdiri di depan gerbang.
“Siapa dia, bu?” tanya gadis remaja kecil memandang ibunya yang terhenti melangkah.
Wanita itu memandang gadis kecil di sebelahnya, lalu pelahan wajahnya mendekat ke telinga gadis remaja itu . “Itu, ayahmu pulang…,” bisiknya.
“Apa bu? Ayah? Betulkah itu ayah?!” teriak gadis kecil itu histeris. Wanita itu mengangguk. “Betul nak, itu ayahmu.”
Gadis itu pun menghambur ke arah lelaki yang masih berdiri di gerbang terkunci. Dengan cepat gadis itu membuka kuncinya, dan ketika gerbang terbuka dia memeluk lelaki itu dengan tangisan. Lelaki bernama Albu Hamidy itu pun tak mampu menahan derai air matanya. Dia tidak mengerti kenapa dia setega itu meninggalkan putrinya yang masih berusia lima tahun ketika itu. Istrinya yang cantik pun seakan terlupakan begitu saja.
“Maafkan ayah, nak,” kata Albu sambil membelai rambut anaknya. “Ayah menyesal, ayah salah melangkah…,” ucap lelaki itu lagi dengan lirih.
Anak gadis itu mendekap erat ayahnya. Seperti tidak mau terlepas lagi.
Albu menghela nafas dalam-dalam. Selintas dia terbayang saat dia diutus medianya meliput ke Festival Nasional Perahu Danau Toba sepuluh tahun yang lalu. Dia seakan terhipnotis oleh semuanya. Terutama kepada gadis bernama Maya Hasibuan yang justru membuat dia gila. Sejak berkenalan, seperti ada magnet yang sangat kuat pada diri perempuan Batak itu. Bayangkan, sepuluh tahun bagai baru kemaren dia lalui bersamanya. Dia lupa daratan, lupa segalanya, dan ini benar-benar gila. Peristiwa demi peristiwa adalah petualangan dari sebuah kegilaan. Maya Hasibuan telah membuat dia harus menikahi Andam Dewi Permata demi sebuah sikap untuk membahagiakan seseorang yang terlanjur dicintainya.
Albu menangis, lalu kemudian melangkah ke teras rumah besarnya. Dia memeluk istri dari cinta pertamanya dengan derai air mata. Dia tidak menyangka wanita itu ternyata tetap setia menunggunya. Kini Albu tidak mengerti, apakah rumah besar ini benar-benar akan menjadi istana terakhir baginya.***
Hutan Kota Taman Remaja Bengkulu, 9/2/2025

Tidak ada komentar:
Posting Komentar