Mari kita tingkatkan pola hidup sehat, budayakan sering cuci tangan, Jaga jarak, cegah covid-19                                                                                                                                                                                                                                                               

Sabtu, 12 Juli 2025

ARTI SEBUAH NAMA

Cerita Pendek

ARTI SEBUAH NAMA

Karya Lekat S. Amrin


TELAH kudapatkan tujuh kuburan di pemakaman itu. Masing-masing pusara mereka terukir sebuah nama, yang tentu mempunyai arti dan penuh makna. Kuburan itu terbaris rapi di antara ratusan kuburan lain yang berjejer. Aku berdiri tegak dan memandangi penuh seksama, kuamati tujuh kuburan itu memang tampak berbeda. Ukurannya lebih kecil dibanding makam yang lain, karena mereka memang mati muda. Bahkan masih anak-anak, atau menjelang mereka tumbuh sebagai remaja kecil.

Dari semua peristiwa kematian mereka, ada suatu sejarah yang kudapatkan dan itu tidak mungkin aku lupakan. Lalu, semua mereka yang mati diantaranya adalah ratusan mayat yang terkubur di pemakaman itu. Rangkaian peristiwa kematian mereka sangatlah tragis dan memilukan, lalu semua kejadian itu tercatat dalam sejarah kampungku.

Guru sejarah waktu aku duduk di SMP menceritakan, bahwa peristiwa itu adalah sejarah kelam di daerah Besemah Padang Guci, kampungku. Di mulai dari kekacauan politik pemberontakan DI/TII di penghujung tahun 1950an sampai tahun 1962an, hingga pecahnya Gerakan 30 September PKI tahun1965. Dan peristiwa ini membawa kekacauan di tengah masyarakat dengan kejadian-kejadian kematian yang tragis dan menyedihkan.

Diceritakan oleh guruku, bahwa pemberontakan DI/TII terjadi keterbelahan antara tentara pemerintah dengan para pemberontak. Di kampungku lebih dikenal bahwa tentara tengah adalah tentara pemerintah sedangkan tentara pemeberontak disebut tentara hutan atau gerombolan. Bentrok senjata inilah awal peristiwa kelam di kampungku. Masyarakat di desa-desa terjepit oleh dua kekuatan bersenjata tentara tengah dan milisi tentara hutan, yang membuat penduduk desa banyak ditembak mati oleh tentara hutan karena dituduh berpihak kepada lawan. Begitu juga sebaliknya tentara tengah membunuh penduduk yang dituding memberi makan kepada milisi tentara hutan. 

Aku benar-benar mendengarkan dengan sungguh-sungguh cerita guruku. Walau pun ada kengerian yang kudengar,  tetapi cerita itu tetap kuikuti dengan seksama. Apa lagi kejadian pembunuhan itu tidak hanya menggunakan senjata rakitan senapan kecepek, tetapi masyarakat yang tertuduh banyak yang ditangkap lalu dieksekusi dengan cara disembelih. Lalu mereka yang telah mati, ditinggalkan begitu saja oleh tentara dan milisi, sembari mengingatkan penduduk yang masih hidup supaya jangan berkhianat. 

Di saat itulah keluarga yang ditinggalkan meraung menyaksikan saudara-saudara mereka yang telah tewas karena disembelih para pemberontak. Kedukaan dan kesedihan yang tak alang kepalang terjadi pada mereka, dan peristiwa tragis itu hampir selalu terjadi di setiap penduduk di kampung yang lain. 

Penduduk desa yang masih tersisa berusaha membantu dalam ketakutan. Mereka tetap mengurus jenazah-jenazah itu sebagaimana umat islam mengurus orang yang mati. Mayat-mayat itu dimandikan, dikafani, lalu disholatkan kemudian dibawa ke pemakaman umum untuk dikuburkan. Benar-benar kurun waktu itu sangatlah mencekam.

Kisah panjang di sisi gelap yang lain, diceritakan pula oleh guruku yaitu tentang pelecehan seksual dan pemerkosaan. Bagi ibu-ibu yang cantik atau anak gadis remaja banyak mengalami peristiwa ini, lalu mereka ada yang trauma kemudian bunuh diri, tetapi ada pula yang pasrah terhadap keadaan yang terjadi pada mereka. Kekacauan dan kekacauan, sekali lagi membuat penduduk pedesaan menjadi korban.

Sepenggal kisah kelam dalam hal pemerkosaan ini terjadi pada keluarga keturunan Cina-Indonesia juga diceritakan oleh guruku. Kejadian dramatis itu di sebuah desa Pelabuhan Penyeberangan Muara Sungai di kawasan pantai Samudera Bajau. Di situ adalah penyeberangan rakit ponton yang telah ramai penduduk. Oleh karena jembatan belum ada maka hanya fasilitas rakit bambu yang digunakan sebagai alat menyeberangi sungai. Para pedagang dari luar daerah pun banyak datang untuk berdagang di pelabuhan penyeberangan itu. Pedagang tidak hanya dari pribumi, tapi juga dari keturunan Arab dan India. Termasuk keluarga Cina ketururan ikut berdagang di pelabuhan itu. Keluarga ini bahkan  mendirikan warung dan menetap di antara penduduk pribumi yang lain, dan mereka akhirnya menjadi penduduk setempat yang membaur.

Kejadian tragis bermula ketika segerombolan yang mengaku tentara hutan, hendak menyeberang di sore menjelang magrib. Tampak pakaian mereka mirip tentara, berbaju loreng lengan digulung, bertopi hijau dan bersepatu lars layaknya sepatu militer. Wajah mereka adalah pribumi, tapi kelihatan menjadi sangar karena seragam yang mereka kenakan. Tak kurang mereka ada lima orang dengan masing-masing menyandang senapan kecepek laras panjang. Kelimanya masih kelihatan muda, berkisar umur 30an atau 40an tahun.

Tapi karena sore itu pemilik rakit telah pulang maka tidak ada yang dapat menjalankan rakit tersebut untuk menyeberang. Maka marah-marahlah ketua gerombolan sambil mengacung-acungkan senapan kecepek, lalu menembakkan ke langit. Dor! Ketakutanlah pendudk di pelabuhan itu sambil minta ampun, dan sebagian bersembunyi ke rumah masing-masing. Seketika kampung pelabuhan penyeberangan menjadi senyap. Hening.

Tak diduga, ketika itulah tiba-tiba lelaki keturunan Cina setengah baya keluar rumah, lalu memberanikan diri mendatangi ketua gerombolan, sambil merayu dan menawarkan untuk bermalam di rumahnya, dan dia siap memberi makanan dan tempat menginap untuk malam itu. Karena dia tau kalau tidak mendapatkan pelayanan, maka gerombolan itu akan semakin ngamuk, dan rumah-rumah penduduk itu bisa ditembaki semua. Saat itu ketua gerombolan memandangi wajah  Cina keturunan itu, kemudian dia tersenyum. Tawaran itupun diterima oleh ketua gerombolan. Lelaki keturunan Cina itu pun plong dan gembira.

“Kebetulan kami lapar,” kata ketua gerombolan sambil mengikuti lelaki Cina tersebut menuju warungnya.

“Haiya, kalau makanan masih banyak di warung,” sahut lelaki Cina keturunan itu berusaha ramah, sekali pun dia tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutannya.

Ketika pintu warung dibuka, maka tampaklah seorang wanita cantik setengah baya di hadapan mereka. Ketua gerombolan langsung memandang wanita itu hampir tak berkedip. Dia pun lalu bertanya; “Ini istrimu?”

“Iya Tuan,” lelaki keturunan Cina setengah baya itu mengangguk. 

Kemudian wanita cantik itu mempersilahkan masuk kepada semua gerombolan itu. Sikapnya kelihatan takut, oleh karenanya dia sangatlah sopan dan hormat.

Tetapi sejak itu ketua gerombolan tidak lepas-lepas lagi memandangi setiap gerak gerik wanita cantik Cina keturunan tersebut. Dari sorot matanya, tampak nyala birahi tak bisa disembunyikan lagi. Selama menunggu istri Cina menyiapkan makanan malam untuk mereka, betapa gelisahnya ketua gerombolan ketika itu. Dia hampir tidak mendengar apa yang dibicarakan lelaki Cina suami wanita cantik tersebut, yang berusaha untuk ramah pada mereka, terutama pada sang ketua.

Sebelum mereka makan malam sambil duduk bersila, ketua gerombolan sempat berbisik pada salah seorang anak buahnya. Dan anak buahnya pun kelihatan menganggukkan kepala pertanda mengerti apa yang dimaksud ketua. Agak lama ketua berbisik pada anak buahnya itu. Bahkan diikuti gerakan-gerakan tangan saat berbisik pada anak buahnya. Sementara anggota yang lain sibuk menikmati roti biskuit yang sebelumnya telah dibuka kalengnya oleh lelaki Cina pemilik warung. 

Tidak berapa lama hidangan makan malam sudah tersedia disiapkan istri lelaki Cina yang cantik itu. Dia sangat sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk tamunya. Dan betapa lahapnya mereka menikmati hidangan tersebut, karena  mereka semua memang sangat lapar. Gerombolan itu pun menyelesaikan makan malam dengan kenikmatan luar biasa dari sebuah jamuan yang disengaja oleh sang Cina keturunan, sebagai sikap baik untuk menjinakkan pemberontak supaya tidak mengamuk dan menghabisi mereka.

Malam pun merambat, lalu keheningan sunyi  yang dipecahkan oleh deburan ombak samudera membuat kegelapan menjadi riuh oleh orkestra alam yang tak pernah berhenti di pinggiran pantai sepanjang waktu. Ketua gerombolan sudah sangat lama menunggu di suasana itu. Birahinya sudah makin memuncak tak tertahankan, ketika sore sejak memasuki rumah Cina keturunan, jantungnya tak berhenti berdebar melihat leher wanita di hadapannya mulus dan putih bersih, dengan buah dada yang besar menonjol. Nafsu kejantanannya seperti ditantang, karena sudah sekian lama masuk hutan keluar hutan melaksanakan misi  ideologi pemberontakan yang sesungguhnya tidak pernah dimengertinya. Malam ini dia melihat mangsa yang harus diterkamnya, untuk kepuasan biologisnya.

Anak buahnya telah siap menjalankan perintah yang dibisikkan ketua beberapa saat sebelum  makan malam tadi. Dia segera menodongkan senjata di kepala lelaki Cina keturunan yang telah tertidur pulas di ruang tengah. Kalau dia terbangun dan melawan maka perintah tembak seketika. Lalu ketua gerombolan menyelinap di kamar tidur istri Cina keturunan yang bersebelahan tak jauh dari ruang tengah. Anggota gerombolan tiga orang yang lain telah ngorok karena kekenyangan dan kelelahan.

Secara diam-diam ketua gerombolan menyaksikan wanita cantik tertidur di ranjang.  Dia pun mengarahkan ujung senjata, lalu  diletakkan di kening wanita setengah baya itu.  Sebelum wanita itu berteriak ketua gerombolan telah lebih dulu berbisik; “Nyawamu berakhir bila kamu berteriak. Serahkan kehormatanmu!” bisik ketua gerombolan di belakang telinga wanita cantik itu.

Wanita itu hanya terdiam. Terpaku. Dia menatap wajah lelaki yang begitu dekat dari wajahnya. Lalu terasa bibirnya telah dilumat oleh kecupan yang penuh nafsu. Wanita itu pasrah, karena dia masih ingin hidup. Lalu, dengan berurai air mata, dia serahkan kehormatannya pada malam itu. Tidak diketahuinya lagi apa yang harus diperbuat pada situasi seperti itu. Yang terlintas dalam benaknya dia belum ingin mati walau yang dihadapinya seseorang yang tak pernah dikenalnya, telah  merenggut kehormatannya. Apa pun peristiwanya, dia terbayang putrinya yang masih kecil di kamar sebelah. Dia ingin putrinya besok tetap tersenyum melihat ibunya masih ada.

***

Aku terenyuh, mengelus dada mendengar cerita guruku. Tidak tahu juga aku harus bertanya apa. Aku hanya sedih dan lidahku menjadi kelu mendengar cerita se dramatis itu. Guruku tetap melanjutkan ceritanya, karena menurutnya apa yang dia ceritakan adalah sejarah kegelapan masa lalu di daerah ini yang tidak boleh terulang. Dan aku sebagai muridnya harus tahu secara lengkap.

Besoknya, di rumah Cina keturunan itu seperti tidak terjadi apa-apa. Gerombolan itu tetap dijamu makan pagi oleh Cina keturunan di rumahnya. Lelaki Cina setengah baya itu, tidak tahu apa yang terjadi. Dia merasa aman, dan karenanya dia tertidur pulas di malam itu. Hanya istrinya di dapur yang meneteskan air mata saat menyiapkan masakan untuk tamunya dipagi itu.

Sebelum gerombolan itu keluar dari rumah, ketua mengingatkan kepada seisi rumah untuk tidak berkhiranat pada perjuangannya. Lelaki Cina keturunan itu mengangguk, termasuk istrinya yang berdiri tidak jauh darinya.

Saat anggota gerombolan itu telah berada di rakit dan bergerak menyeberang, ketua gerombolan menembakkan senjatanya ke langit, dan ledakan itu membuat semua penghuni pelabuhan terkejut. Tapi mereka kemudian hanya terdiam sambil menyaksikan anggota gerombolan yang makin menjauh menuju seberang sungai. Itu hanya peringatan heroik dari situasi yang sedang kacau.

Sejenak aku menahan nafas. Aku betul-betul masih ingat semua cerita guruku. Hampir tiada tersisa, semua bagian sangat detil dalam otakku. Dapat kubayangkan, betapa kacaunya negara di tahun-tahun itu. Sangat tidak stabil. Ekonomi, politik, sosial, bahkan budaya benar-benar porak poranda. Tetapi aku sebagai seorang murid ingin menghimpunnya menjadi sebuah pengetahuan, yang kemudian bisa bermanfaat demi mengarungi masa depan yang lebih baik.

Terakhir, adalah kisah yang menjadi kesedihan bagi diriku sendiri dan kedua orang tuaku. Tetapi ini pun kuanggap perjalanan spiritual sebagai pembuka tabir rahasia kehidupanku. Dan semua itu ada hikmah dari balik peristiwa yang terjadi, sekali pun rangkaian yang kualami dimulai oleh kesedihan, kegundahan, bahkan keputusasaan. Itu pun terjadi disaat aku mulai tumbuh sebagai remaja. Usia SMP adalah usia pancaroba, di mana setiap orang memulai pencarian jati dirinya. Dan aku mengakui, mengalami penggalan-penggalan peristiwa itu sebagai sesuatu yang heroik.

Malam itu aku bermimpi. Persis di sebuah taman penuh bunga, yang sebelumnya tidak pernah aku ketahui, di mana aku berdiri tegak dalam kecerahan cuaca di pagi hari yang baru mulai. Kutahu, itu adalah sebuah lapangan yang tidak bertepi, oleh karenanya kutegaskan sekali lagi, sebelumnya tidak pernah aku  mengetahui lokasi itu berada di mana. Ini benar-benar misteri.

Aku merinding sambil berdiri di tempat itu. Karena sangat sepi. Tetapi yang membuat aku lebih merinding, ada sekelebat tujuh orang di kejauhan berpakaian putih-putih mendekat padaku. Aku hanya tercekat, karena seperti kulihat kaki mereka tampak tidak menginjakkan tanah. Melayang bagaikan kapas, dan makin mendekat padaku. Aku hanya menanti dengan tubuh yang kaku.

Ketika mereka bertujuh berada di hadapanku, baru mereka benar-benar menginjakkan kaki di atas rumput hijau. Empat orang dari mereka adalah gadis remaja yang cantik-cantik, dan tiga orang ramaja lelaki yang ganteng-ganteng. Kutatap mereka bertujuh yang berpakaian muslim putih-putih, yang perempuan memakai kerudung indah, melayang-layang diterpa angin. Kupandangi mereka semua sangat dalam, baru aku yakin mereka adalah manusia. Sama seperti aku.

“Selamat bertemu adikku. Kami semua adalah saudaramu,” kata seorang remaja wanita yang paling besar. 

Lalu dia memandang kepada keenam orang yang lain di sisinya. “Benar ‘kan kita semua adalah saudaranya?” katanya bertanya, lalu matanya yang indah menatap padaku.

Keenam orang itu pun mengangguk. “Benar, kami semua saudara kandungmu. Dan kami hari ini sangat bahagia, bahwa kita bisa berjumpa di sini,” jawab mereka bersamaan.

Aku terdiam. Aku hanya menatapi wajah mereka satu persatu. Aku bingung harus berkata apa. Karena aku tahu, diriku terlahir sebagai putra tertua dari kedua orang tuaku. Lalu dua adikku masih kecil, yang kini berada di rumah. Aku hanya mampu berdiam saja, karena aku tidak bisa berkata bohong terhadap kenyataan yang tidak aku ketahui.

“Kau kelihatan bingung adikku, tapi kau akan tahu suatu ketika kelak tentang siapa dirimu. Sampaikan salam kepada kedua orang tua kita,” kata remaja cantik itu sambil tersenyum. Lalu enam orang yang lain mengangguk sambil menyunggingkan senyum mereka masing-masing.

Aku hanya berdiri kaku. Entah kenapa aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat tujuh orang cantik-cantik dan tampan-tampan berdiri di hadapanku. Wajah mereka bersinar dan berbinar. Lalu beberapa saat aku mencoba untuk berkata, pelahan mereka membalikkan badan sambil melambaikan tangan padaku. Mereka semua melangkah pergi sampai jauh, hingga tidak tertangkap lagi oleh penglihatanku.  Benar-benar mereka menghilang ditelan tepian yang jauh.

Dan aku pun terbangun dari mimpi itu. Badanku terasa berkeringat. Mimpiku benar-benar aneh, dan semua ini baru kusadari pasti ada sesuatu terhadap diriku. Pagi itu kulihat matahari sudah menyala di luar rumah. Aku pun bangun dari ranjang tua tempat tidurku, lalu berjalan untuk mencari kedua orang tuaku. 

Di ruang tengah kutemukan kedua adikku sedang makan, mereka kelihatan lucu-lucu. Sedangkan ibuku di dapur sedang masak untuk persiapan makan siang. Sementara ayahku telah pergi ke ladang, sebagaimana biasa setiap pagi ayahku pergi lebih pagi. Katanya lebih enak memulai kerja pagi-pagi sebelum terasa panas terik matahari. Ibuku biasanya baru menyusul sambil membawa bekal makanan untuk ayahku.

Ketika itu aku tidak tahan untuk segera menceritakan mimpi yang baru kualami pada ibuku. Ketika kuajak di ruang tengah, ibuku bertanya tentang mimpi apa yang mau diceritakan. Aku memandang ibuku dengan tatapan kasih menyaksikan dia duduk di kursi yang menghadap meja makan sambil menatap wajahku. Saat memandang wajah ibu, aku selalu kagum padanya karena dia seorang ibu yang sabar, seorang ibu yang ikhlas mengerjakan apa pun untuk anaknya dan melayani ayahku. 

“Apa mimpimu nak?” tanya ibuku kemudian.

Aku berdiam sejenak dan menatap wajah ibuku yang tulus. Baru kemudian aku ceritakan semua peristiwa dalam mimpiku. Kukatakan pada ibu, betapa aneh mimpiku ini, apakah ada rahasia tentang semua ini.

Setelah mendengar ceritaku, tiba-tiba mata ibuku berkaca-kaca. Beberapa saat kemudian, dia pun beranjak dari tempat duduknya dan memeluk tubuhku. Ibuku pun menangis sejadi-jadinya.

Aku tentu kaget menyaksikan ibuku menangis sambil memeluk tubuhku. “Bu, kenapa ibu menangis?” tanyaku.

Ibu pun melonggarkan pelukannya terhadap tubuhku. “Kau bertemu dengan semua saudaramu yang telah meninggal. Mendengar cerita mimpimu, ibu kembali menjadi sedih karena teringat mereka. Semua kakakmu meninggal di usia yang sangat muda, nak…’ ibuku berhenti berkata-kata karena tangisnya yang terdengar sangat pilu.

Aku pun jadi terkejut. Tiba-tiba aku pun memeluk ibuku, aku pun menangis mendengar ibu yang terdengar sangat sedih. Beberapa saat kemudian aku bertanya pada ibu, kenapa mereka semua meninggal. Aku memandang wajah ibu yang basah oleh air mata.

“Penyebab kematian saudaramu sangat memilukan. Kelak ayahmu pulang, dia akan menceritakan,” kata ibuku pula.

Aku pun mengangguk mengerti. Bagaimana pun aku tidak ingin memaksa ibuku menceritakan peristiwanya, karena ibuku kusaksikan sangat bersedih saat mengingat putra-putrinya yang telah mendahuluinya.

Baru pada malamnya, ayahku bercerita padaku, bahwa di tahun 1950an terjadi penyakit ganas menyerang semua penduduk. Penyakit kolera, penyakit malaria, dan penyakit demam berdarah terjadi di semua desa. Sementara, saat itu bersamaan pula dengan kekacauan politik negeri, yaitu pemberontakan gerombolan dilanjutkan dengan gerakan PKI, membuat pemerintah pusat tidak sanggup mendatangkan tenanga medis dan obat-obatan ke daerah pedalaman, seperti di daerah Besemah Padang Guci ini.

Ayahku menjelaskan, anak-anaknya yang masih remaja kecil ketika itu baru berusia lima tahun hingga tiga belas tahun semua terserang penyakit tersebut. “Obat tradisional tidak mammpu mengatasi, karena penyakitknya sangat ganas. Antara tahun 1950an hingga tahun 1965an tujuh orang saudaramu semuanya meninggal terkena penyakit itu,” kata ayahku.

Mata ayahku pun tampak berkaca-kaca karena menahan air matanya saat menceritakan peristiwa tragis yang dialaminya. “Ayah dan ibumu ketika itu sungguh putus asa, karena kehilangan semua anak-anak yang menjadi harapan masa depan,” ayahku berkata pilu.

Malam itu ibu kudengar sesenggukan menangis saat ayahku bercerita. Tapi kupeluk ibuku dengan kasih sayang. Dua adikku pun berada di pelukan ibuku kupandang dengan lembut.

“Oleh karena itu, saat kau lahir di tahun 1968an maka kami menamakanmu Lekat Sono Amrin, yang berarti; ‘yang tak lepas tak berantara untuk memakmurkan’, itu makna dan arti namamu yang selalu ayah dan ibu harapkan kelak,” ayah menatapku lembut. Kemudian ayah berkata lagi; “Namun saat ini, kau sudah beranjak besar, sempatkanlah waktumu untuk berziarah ke kubur saudara-saudaramu,” kata ayahku dengan matanya yang masih berkaca-kaca.

Aku pun mengangguk mengerti. Bahkan terkesima aku mendengar cerita ayah. Baru aku merasa kini, sejarah hidupku seakan sebuah kisah yang begitu bermakna bagi mereka,  dari semua tragedi atas kekacauan politik negara yang panjang. Aku memandang wajah ayahku, lalu menatap wajah ibuku, kemudian menyentuh dua adikku yang masih kecil berada dalam pelukan ibuku.

Hari ini,  benar-benar aku telah berada di tengah semua kuburan saudaraku. Dan aku betul-betul ziarah ke kubur tujuh saudaraku yang telah mendahului kami semua. Aku duduk dan berdoa pada Tuhan semoga mereka tenang di alam sana. Seperti juga aku memohon pada-Nya keselamatan kami sekeluarga disaat menjalani kehidupan di masa mendatang yang masih penuh misteri.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar