Mari kita tingkatkan pola hidup sehat, budayakan sering cuci tangan, Jaga jarak, cegah covid-19                                                                                                                                                                                                                                                               

Selasa, 07 April 2026

BUKU KUMPULAN CERPEN LEKAT S. AMRIN: “FESTIVAL RITUAL KEMATIAN"

Arkeologi Luka, Dialektika Roh, dan Estetika Kematian dalam Fragmen Lekat S. Amrin



HM Nasruddin Anshoriy Ch, yang akrab dipanggil Gus Nas adalah Budayawan, Penyair, Produser Film, telah memberikan Kata Pengantar yang cukup panjang dalam buku Kumpulan Cerpen Karya Lekat S. Amrin, berjudul “Festival Ritual Kematian”. Buku yang diterbitkan Dandelion Publisher ini terdaftar di ISBN (International Standard Book Number) dengan nomor: 97862337348668, direncanakan akan di-lounching bersamaan dengan Festival Tabot Bengkulu tahun 2026 ini.

Kutipan pada salah satu paragrap, Gus Nas menjelaskan bahwa judul “Festival Ritual Kematian” sendiri adalah sebuah Oksimoron (majas penegasan yang menggabungkan dua kata dengan makna berlawanan atau bertentangn secara berdampingan dalam satu frasa atau kalimat) Spiritual. Bagaimana mungkin kematian—puncak dari segala kehilangan—dirayakan sebagai festival ? Di sinilah Lekat S. Amrin bermain dengan nalar Sufistik sekaligus animistik yang kental di Bumi Raflesia. Kematian tidak dipandang sebagai titik henti (full stop), melainkan sebagai tanda koma dalam sebuah kalimat panjang menuju keabadian.

Secara spriritual, cerpen-cerpen ini adalah bentuk Ziarah Literasi. Penulis membawa pembaca memasuki kamar-kamar gelap ingatan, di mana hantu-hantu masa lalu tidak datang untuk menakuti, melainkan untuk menuntut pengakuan. Dalam perspektif filsafat Timur, kematian adalah “pulang”. Namun dalam narasi Lekat S. Amrin, kepulangan itu seringkali terhalang oleh pengkhianatan dan janji-janji politik yang busuk. Kematian menjadi ritual karena ia adalah satu-satunya cara bagi mereka yang terpinggirkan untuk mendapatkan kembali martabatnya yang dirampas oleh dunia yang fana.

Keunikan Lekat S. Amrin terletak pada keberaniannya mencampurkan darah fiksi dengan tulang punggung Features Jurnalistik. Ini bukan sekadar teknik gaya bahasa, melainkan sebuah Pernyataan Ontologis tentang kebenaran. Pertama, presisi fakta, Kedalaman Rasa: Gaya jurnalistik memberikan efek verisimilitude (kemiripan dengan kenyataan) yang mencekam. Saat ia menulis tentang Tsunami Aceh, detail-detail kecil yang dilaporkan secara lugas membuat kepiluan itu terasa “nyata” secara fisik. Ia tidak berjarak dengan objeknya; ia adalah saksi yang memegang pena sekaligus penyair yang memegang hati.

HM Nasruddin Anshoriy Ch telah menuangkan Analisis Etnografi dan Antropologi: Lokalitas yang Menubuh, Histografi Luka, Eksistensialisme di Ambang Kehancuran, Sastra Sebagai Kritik Sosial, Diksi yang Berdarah dan Puitis, dan seterusnya, dikupas tuntas dalam kata pengantar yang dipersembahkan untuk pembaca yang siap mengikuti alur cerita dan tema-tema Cerpen Lekat S. Amrin, dari 15 (lima belas) judul yang dirangkum dalam buku ini.

Sementara novelis senior, Noorca M. Massardi, memberi komentar tentang kumpulan Cerpen “Festival Ritual Kematian”  karya Lekat S. Amrin ini menyajikan narasi emosional yang berakar pada realitas sosial dan sejarah kelam masyarakat, seperti trauma masa pemberontakan  PRRI, tragedy G30S, tsunami Aceh hingga isu politik kontemporer. Penulis menjahit kisah-kisah kegetiran, kehilangan dan pengkhianatan dalam nuansa spiritual serta detil dan lokalitas yang kuat.

Menurut sastrawan angkatan 80an ini, kisah fiksi yang kadang ditulis dalam gaya features jurnalistik ini berhasil memotret sisi manusiawi yang rapuh, di mana nilai kejujuran sering kali kalah oleh ambisi atau desakan ekonomi. Gaya bahasanya yang lugas namun penuh empati mampu membawa pembaca merasakan kepiluan para tokohnya, menjadi sebuah refleksi tajam. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar